Bagaimana cara membuktikan bahwa argumen kita itu benar?
"Ya dengan mencari data yang menguatkan argumen itu!"
Bagaimana kita tahu kalau data tersebut benar?
"Kan sudah ada penelitiannya."
Bagaimana kita tahu kalau hasil penelitian itu benar?
Bagaimana jika ternyata tidak ada cara untuk membuktikan kebenaran dari argumen kita?
Bagaimana jika yang kita lakukan hanyalah untuk meyakinkan diri sendiri bahwa argumen kita itu benar?
"Hmm … tunggu, ini pertanyaan yang sulit!"
Sulit, ya? Sebab mustahil bagi kita untuk dapat membuktikan kebenaran dari suatu argumen apa pun.
Yap, begitulah kira-kira bunyi dari trilema münchhausen.
Trilema Münchhausen adalah masalah dalam cabang filsafat yang dikenal sebagai epistemologi. Trilema Münchhausen, juga dikenal sebagai trilema Agripa, mengungkapkan bahwa teori pengetahuan apa pun tidak dapat dipastikan dan bahwa semua keyakinan tidak dapat dibenarkan.
Dengan kata lain, keyakinan yang dibenarkan, yaitu keyakinan yang didasarkan pada nalar dan logika, tidak dapat diperoleh, karena trilema münchhausen menunjukkan ketidakmungkinan premis yang dibenarkan.
Ada banyak upaya untuk membangun keyakinan yang dibenarkan, tetapi sejauh ini tidak ada yang memuaskan. Jadi, eksperimen pemikiran trilema münchhausen masih menjadi masalah bagi teori pengetahuan apa pun.
Trilema Münchhausen membawa kita pada keyakinan yang tidak dapat dibenarkan dan menghilangkan kepastian dalam pengetahuan karena menghentikan kita dari membentuk teori pengetahuan melalui penalaran yang salah: misalnya:
([X → Y] ↔ [Y → X]) = argumen melingkar
([X → Y] ^ [Y → ∞]) = regresi tak hingga
(X → X) = aksioma
1. Argumen melingkar: bentuk penalaran di mana kita berakhir dengan argumen yang kita buat sendiri di awal. Biasanya pembuktian tersebut berbentuk seperti ini:
A benar karena B.
B benar karena A.
Misalnya:
J: Guru kami mengatakan kepada kami bahwa berbohong itu buruk.
B: Mengapa berbohong itu buruk?
J: Karena guru kami mengatakan demikian.
J: Oleh karena itu, berbohong itu buruk.
Bukti berdasarkan argumen melingkar tentu saja tidak valid, karena asumsi yang diberikan di awal kita anggap sebagai suatu kebenaran. Padahal kebenarannya pun masih dipertanyakan!
2. Argumen regresi tak hingga: membuktikan sesuatu menggunakan suatu premis di mana premis tersebut membutuhkan suatu bukti lagi, dan seterusnya hingga tak terbatas (ad infinitum).
Misalnya begini:
A: "Pernyataan P1 benar."
B: "Kenapa P1 benar?"
A: "Karena pernyataan P2 ."
B: "Kenapa P2 benar ?"
A: "Karena pernyataan P3 ."
B: "Kenapa P3 benar ?"
A: "Karena pernyataan P4 ."
⋮
dst.
Di dalam regresi tanpa batas, setiap pernyataan akan bergantung pada pernyataan-pernyataan lain. Jika rantai ini tidak memiliki batas, maka tidak ada alasan bagi kita untuk memercayai kebenaran dari pernyataan-pernyataan yang tidak mendasar tersebut.
Mirip seperti sebuah rantai. Bila satu bagian rusak, maka seluruh komponen tidak dapat digunakan. Pun jika ada satu pernyataan yang kebenarannya diragukan, maka pernyataan-pernyataan lain di dalam rantai tersebut akan diragukan pula.
3. Argumen aksiomatik: argumen yang tidak membutuhkan bukti lagi karena dianggap sudah cukup jelas. Mengapa dianggap cukup jelas? Karena argumen atau pernyataan tersebut berdasarkan pada pengetahuan/pandangan yang dimiliki orang-orang tentang hal-hal tertentu. Akal sehat adalah salah satu contoh. Akal sehat menuntut Anda untuk terbiasa dengan berbagai hal di sekitar Anda.
Ini mirip dengan aksioma di dalam matematika. Seperti misalnya, mengapa 1+3=3+1 ? Itu sudah jelas, tidak perlu dibuktikan. Satu apel ditambah tiga apel jumlahnya akan sama saja dengan tiga apel ditambah satu apel.
Trilema Munchhausen menentukan bahwa gagasan tentang pengetahuan yang sudah ada sebelumnya merupakan persoalan dan tidak dapat menentukan validitas. Perhatikan pernyataan, "Mangga adalah buah yang paling beraroma". Pernyataan itu hanya akan benar tanpa memerlukan bukti apa pun, jika disampaikan kepada orang lain yang memiliki pendapat yang sama. Oleh karena itu, pernyataan apa pun dapat dianggap valid tanpa harus membuktikan validitas.
Jadi trilema münchhausen ingin mengatakan bahwa ketika kita membuktikan suatu pernyataan, maka hanya bisa didasarkan pada tiga cara: argumen melingkar, argumen regresi, atau argumen aksiomatik. Pada ketiga cara tersebut, bukti dari suatu pernyataan akan tertolak kebenarannya, sehingga mustahil bagi kita untuk membuktikan kebenaran dari pernyataan apapun.
Tetapi apakah benar kita hanya bisa membuktikan suatu pernyataan berdasarkan pada ketiga cara itu?
Untuk menyangkal trilema Münchhausen ini, maka kita harus mengonstruksi suatu pembuktian di luar ketiga argumen tersebut, tetapi, apakah bisa?
Nah, masalah ini kemudian dimasukkan ke dalam daftar masalah yang belum terselesaikan di dalam filsafat.
Referensi:
https://ideasinhat.com/2018/11/16/what-is-the-munchhausen-trilemma/
https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_unsolved_problems_in_philosophy
